Potensi Tsunami 20 Meter di Banten Imbas Megathrust


Kamis, 05 September 2024 (22:10 WIB) CMC PKSS Menginformasikan:

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nuraini Rahma Hanifa mengungkap ada potensi tsunami hingga 20 meter yang akan menghantam wilayah Banten apabila megathrust di bagian selatan Jawa melepaskan energi besarnya.

Saat ini ada empat segmen megathrust yang berada di selatan Jawa, yakni Megathrust Selat Sunda, Megathrust Jawa Barat, Megathrust Jateng-Jatim, dan Megathrust Bali.

Dari empat segmen itu, Megathrust Selat Sunda merupakan salah satu zona seismic gap atau zona sumber gempa potensial tapi belum terjadi gempa besar dalam masa puluhan hingga ratusan tahun terakhir.

Zona ini diduga sedang mengalami proses akumulasi medan tegangan/stress kerak Bumi.

Megathrust Selat Sunda, memiliki panjang 280 km, lebar 200 km, dan pergeseran (slip rate) 4 cm per tahun. 

Zona Megathrust Selat Sunda yang berdekatan dengan Provinsi Banten menjadi perhatian khusus pihaknya dalam menghadapi potensi gempa besar di wilayah tersebut. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi hal itu.

BMKG sudah bekerja sama untuk memasang peringatan dini, termasuk jalur-jalur evakuasi. Menurut dia mitigasi gempa besar megathrust yang berpotensi memunculkan tsunami dahsyat di wilayah itu butuh perhatian serius.

BMKG juga sudah memasang 20 unit akselerograf atau yang dikenal dengan strong motion seismograf, sebuah perlatan yang digunakan untuk merekam guncangan tanah yang sangat kuat sehingga percepatan permukaan tanah terukur.

Pemasangan 20 unit akselerograf di Banten itu merupakan yang terbanyak dibanding wilayah lain.

BMKG sudah memasang sebanyak 22 unit automatic water level atau tsunami gate yang berpotensi mendeteksi potensi tsunami yang kemungkinan disebabkan oleh gempa megathrust ataupun aktivitas Gunung Anak Krakatau.

BMKG juga sudah menambah sirine evakuasi menjadi 15 unit dari sebelumnya hanya 2 unit di wilayah Banten. 

BMKG, telah memasang 81 Warning Receiver System (WRS) di BPBD, hotel, dan industri.

Warning Receiver System merupakan salah satu alat diseminasi informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami.

Mitigas Bencana Gempa Bumi Perkantoran

Mitigasi saat gempa bumi yang salah bisa menyebabkan bahaya yang fatal terutama di sekitar area perkantoran yang umumnya bangunan bertingkat, contohnya berlarian menuju tangga darurat saat gempa masih terjadi.

Untuk menghindari kesalahan seperti itu, inilah tindakan-tindakan penting yang perlu dilakukan sebagai mitigasi gempa bumi yang terbagi menjadi tiga, yakni langkah sebelum gempa, langkah saat terjadi gempa, dan langkah pasca gempa.

A. Langkah yang bisa dilakukan sebelum gempa yang dapat mengurangi dampaknya adalah sebagai berikut:
  1. Mengenali struktur dan letak rumah Anda untuk mengetahui risiko penyebab gempa bumi, seperti likuifaksi, longsor, gunung berapi
  2. Merenovasi ulang struktur bangunan yang sudah rapuh. Mengetahui jalur evakuasi di tempat Anda sering berada, seperti rumah dan kantor
  3. Pastikan Anda tahu jalur keluar, seperti tangga darurat, menuju tempat yang aman untuk berlindung. Berlatih untuk melakukan evakuasi serta menggunakan alat P3K
  4. Mencatat nomor telepon penting yang bisa dihubungi jika terjadi gempa bumi. Selalu mematikan air, gas, dan listrik jika tidak digunakan
  5. Posisikan perabotan menempel pada dinding dengan dipaku atau diikat untuk menghindari jatuh.
B. Ketika terjadi gempa, ikuti langkah berikut ini:
  1. Hindari furnitur atau perabotan tinggi yang mudah jatuh, seperti lemari, rak, dan cermin karena berpotensi untuk jatuh dan menimpa tubuh atau menghalangi jalan saat akan keluar
  2. Jauhi sebisa mungkin jendela kaca atau barang-barang yang mudah pecah. Lindungi mata yang merupakan bagian sensitif jika ada serpihan kaca yang terpecah
  3. Segera menunduk dan cari tempat berlindung seperti dibawah meja, dibawah kursi, atau apapun yang dapat melindungi badan apabila ada benda/material yang jatuh. Selalu usahakan untuk melindungi bagian kepala, bisa menggunakan tas, buku tebal, ataupun bantal
  4. Selain berlindung dibawah meja, kita bisa berlari menuju tempat aman lainnya yakni di dekat kontruksi kuat seperti tiang-tiang besar (pondasi)/pilar beton dan berdiri di dekat lift. Mengapa? Karena elemen struktur yang digunakan di area itu bisa meredam distribusi gempa dan menjadi tempat yang kuat dari bangunan tersebut
  5. Jangan pernah menggunakan lift saat gempa terjadi karena kemungkinan besar akan terjadi korsleting listrik ataupun rem darurat yang sewaktu-waktu aktif. Apabila sudah berada di dalam lift, turunlah di lantai berikutnya
  6. Jangan langsung berlari atau menuju tangga darurat saat terjadi gempa, selain bisa menyebabkan cidera karena goncangan yang terjadi kita juga harus menghindari penumpukan orang saat di tangga darurat
  7. Sebisa mungkin hindari berlindung di ruangan kecil dan sempit seperti kamar mandi atau gudang, karena bisa memperlambat mitigasi ataupun evakuasi yang akan dilakukan.
C. Setelah gempa, ikuti langkah berikut ini:
  1. Keluar dari bangunan tersebut dengan tertib;
  2. Jangan menggunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa;
  3. Periksa apa ada yang terluka, lakukan P3K;
  4. Jangan mamasuki bangunan yang sudah terkena gempa karena kemungkinan masih terdapat reruntuhan.
  5. Telepon atau mintalah pertolongan apabila terjadi luka parah pada Anda atau sekitar Anda.
  6. Dengarkan informasi mengenai gempabumi dari radio (apabila terjadi gempa susulan).
  7. Jangan mudah terpancing oleh isu atau berita yang tidak jelas sumbernya.
  8. Jangan panik dan selalulah berdo'a kepada Tuhan Yang Maha Esa demi keamanan dan keselamatan kita semuanya.
Demikian kami informasikan, terima kasih.

Sumber: Nuraini Rahman Hanifa (BRIN), Internal PKSS.

Komentar

Postingan Populer